Pages

RSS

Senin, 14 Februari 2011

Tipe-Tipe Lembaga Kemasyarakatan

  1. Crescive Institutions dan Enacted Institutions.

Merupakan klasifikasi dari sudut perkembangannya.

Crescive Institutions disebut sebagai lembaga-lembaga paling primer juga merupakan lembaga
yang tidak sengaja tumbuh dari adat-istiadat masyarakat.

Contohnya: perkawinan, agama, hak milik.

Enacted Institutions adalah lembaga yang sengaja dibentuk untuk memenuhi tujuan tertentu.

Contohnya: Sebagai utang piutang, lembaga perdagangan dan lembaga pendidikan yang
kesemuanya berakar pada kebiasaan masyarakat. Pengalaman melaksanakan kebiasaan
tersebut kemudian disistematikan dan diatur untuk kemudian dituangkan ke dalam lembaga-
lembaga yang disahkan oleh negara.

  1. Dari sudut sistem nilai-nilai yang diterima masyarakat, timbul klasifikasi:

Basic Institutions adalah lembaga kemasyarakatan yang sangat penting untuk memelihara
dan mempertahankan tata tertib dalam masyarakat. Dalam masyarakat Indonesia, misalnya
keluarga, sekolah-sekolah, negara.

Subsidiary Institutions adalah lembaga kemasyarakatan yang dianggap kurang penting
seperti misalnya rekreasi. Ukuran apakah yang dipakai untuk menentukan suatu lembaga
kemasyarakatan dianggap sebagai basic atau subsidiary, berbeda di masing-masing
masyarakat. Ukuran tersebut juga tergantung dari masa hidup masyarakat tadi berlangsung.
Misalnya sirkus pada zaman romawi dan yunani kuno dianggap sebagai Basic Institutions.
Pada dewasa ini kiranya tidak akan dijumpai suatu masyarakat yang masih punya keyakinan
demikian.

  1. Dari sudut penerimaan masyarakat dapat dibedakan approved atau social sanctioned-institutions.

Approved/social Sanctioned Institutions adalah lembaga kemasyarakatan yang dapat
diterima masyarakat seperti misalnya sekolah, perusahaan dagang.

Unsanctioned Institutions adalah lembag kemasyarakatan yang ditolak oleh masyarakat,
walau masyarakat terkadang tidak berhasil memberantasnya. Misalnya kelompok penjahat,
pemeras, dsb.

  1. General Institutions dan Restricted Institutions

Kedua faktor ini timbul apabila klasifikasi tersebut didasarkan pada faktor penyebarannya.
Contoh untuk general institutions adalah agama islam, krissten, Budha, dll. Karena dianut oleh
masyarakat tertentu didunia ini.

  1. Operative Intitutions dan Regulative Institutions.

Fungsi dari kedua lembaga kemasyarakatan ini adalah sebagai lembaga yang menghimpun
pola-pola atau tata cara yang diperlukan untuk mencapai suatu tujuan lembaga yang
bersangkutan, seperti misalnya lembaga industrialisasi. Yang kedua bertjuan untuk
mengawasi adat istiadat dan tata kelakuan yang tidak menjadi bagian mutlak lembaga itu
sendiri, Contohnya adalah lembaga hukum seperti kejaksaan, pengadilan, dsb.

KARAKTERISTIK SOSIOLOGI SEBAGAI ILMU

1. Bersifat empiris: dibangun dari hasil observasi terhadap fakta dan akal sehat serta hasilnya tidak bersifat spekulatif;
2. Bersifat teoretis, selalu menyusun abstarksi hasil observasi. Abstraksi merupakan kerangka dari unsur-unsur yang tersusun secara logis, bertujuan menjelaskan hubungan sebab akibat sehingga menjadi teori;
3. Bersifat kumulatif: berarti teori-teori sosiologi berkembang atas dasar teori-teori yang sudah ada dalam arti memperbaiki, memperluas dan memperhalus teori-teori yang lama;
4. Bersifat non-etis: tidak mempersoalkan baik-buruknya fakta sosial tertentu, tetapi tujuannya menjelaskan fakta sosial secara analitis.
• SOSIOLOGI SEBAGAI METODE
Suatu ilmu dapat dirumuskan dalam dua cara, yaitu:
1. suatu ilmu adalah suatu kerangka pengetahuan yang tersusun dan teruji yang diperoleh melalui suatu penelitian ilmiah;
2. suatu ilmu adalah suatu metode untuk menemukan suatu kerangka pengetahuan yang tersusun dan teruji. Bila rumusan pertama diterima, maka sosiologi adalah suatu ilmu sejauh sosiologi mengembangkan suatu kerangka pengetahuan yang tersusun dan teruji yang didasarkan pada penelitian ilmiah. Bila ilmu didefinisikan sebagau suatu metode penelaahan, maka sosiologi adalah suatu ilmu sejauh sosiologi menggunakan metode penelitian ilmiah.

• METODE DALAM SOSIOLOGI
Menurut Soekanto, pada dasarnya ada dua jenis metode dalam mengkaji masyarakat, yaitu:
1. Metode kualitatif: mendeskripsikan hasil penelitian berdasarkan penilaian thd data yg tidak dapat diukur dengan angka. Metode kualitatif ada tiga, yaitu: (a) Metode Historis: deskripsi dan analisis data berdasarkan pada peristiwa masa lampau untuk mengetahui sebab kejadian sekarang; (b) Metode Komparatif: membanding data kondisi masyarakat satu dengan lainnya, dan mengetahui sebab terjadinya kondisi masyarakat itu; (c) Studi Kasus, yaitu memusatkan kajian pada fenomena sosial tertentu, lembaga, kelompok, maupun individu.
2. Metode kuantitatif: cara penelitian yang dalam analisis datanya mengutamakan keterangan berdasarkan angka-angka, gejala yang diteliti diukur dengan skala, indeks, tabel atau formula-formula tertentu yang pada dasarnya cenderung menggunakan uji statistik.
METODE INDUKTIF DAN DEDUKTIF
Metode berpikir didasarkan pada cara berpikir induktif dan deduktif.
1. Metode induktif adalah cara untuk mempelajari suatu keadaan dari gejala yang khusus untuk mendapatkan kaidah-kaidah yang berlaku dalam lapangan yang lebih luas.
2. Sedangkan metode deduktif adalah yang menggunakan proses sebaliknya, yaitu mulai dengan kaidah-kaidah yang dianggap umum untuk kemudian dipelajari dalam keadaan yang khusus.
APLIKASI METODE SOSIOLOGI
a. Metode ilmiah sosiologi dalam aplikasinya senantiasa diawali dengan mengidentifikasi masalah, merumuskan masalah, kemudian menentukan ruang lingkup penelitian, merumuskan hipotesis sesuai dengan rumusan masalah.
b. memilih dan menentukan metode apa yang tepat dan bermanfaat dalam pengumpulan data, sehingga dapat membuktikan relevansi hipotesis terhadap rumusan masalah yang telah ditentukan.

• TUJUAN SOSIOLOGI
1. Mendalami masyarakat melalui penelitian ilmiah sehingga mengahasilkan prinsip dan pola umum;
2. Pengetahuan mengenai hakikat, sifat dan struktur masyarakat;
3. Memperoleh pengetahuan tentang hubungan dan pengaruh timbal-balik antara aneka macam gejala sosial;
4. Hubungan timbal-balik antar gejala sosial dengan non-sosial dan memprediksi perilaku manusia dalam kehidupan masyarakat;
5. Menginformasikan hasil penelitian ilmiah kepada publik dan masukan publik dijadikan pertimbangan mengembangkan sosiologi dan perencanaan pembangunan

• FUNGSI SOSIOLOGI
1. Menyediakan pandangan mengenai lingkungan sosial secara lebih baik, sekaligus bisa meneliti kembali kehidupan masyarakat;
2. Membantu manusia memahami diri dan lingkungannya tentang peranan kekuatan sosial dalam masyarakat;
3. Memberikan berbagai wawasan baru mengenai keluarga, interaksi sosial, hubungan sosial dan perubahan sosial;
4. Memberikan informasi dan pandangan baru mengenai masalah sosial-budaya yang dihadapi anggota masyarakat;
5. Memberikan kemampuan dasar untuk mengetahui mengapa masyarakat bertindak dengan cara yang mereka lakukan;
6. Memudahkan manusia mengenal seluk-beluk tradisi adat, memperluas pengetahuan mengenai perbedaan perilaku sosial, dan kemampuan adaptasi dengan pola tindakan baru.

• MANFAAT SOSIOLOGI
KEGUNAAN DALAM PENELITIAN
1. Memberi pemahaman simbol-simbol, kata-kata, kode-kode, dan berbagai istilah yang digunakan masyarakat dalam kehidupan sosial;
2. Memberi kemampuan untuk mempertimbangkan berbagai fenomena sosial yang timbul dalam masyarakat terlepas dari prasangka subyektif;
3. Memberi kemampuan berpikir dalam melihat kecenderungan arah perubahan perilaku masyarakat atas sebab-sebab tertentu;
4. Memberikan sikap kehati-hatian dalam menjaga argumen yang logis sehingga tidak terjebak dalam logika ideal tetapi palsu;

KEGUNAAN DALAM PERENCANAAN SOSIAL
1. Mengatasi kemungkinan terjadinya masalah dalam proses perubahan sosial, dengan mengkordinasikan antarpotensi, disiplin, dan kegiatan seluruh anggota masyarakat;
2. Memudahkan proses penyusunan, dan proses sosialisasi perencanaan sosial dengan memanfaat pengetahuan sosiologi;
3. Menggunakan cara berpikir sosiologis, maka perencanaan sosial dapat dimanfaatkan untuk mengetahui batas-batas keterbelakangan dan kemajuan kebudayaan masyarakat.

KEGUNAAN DALAM PERENCANAAN PEMBANGUNAN
1. Sebagai acuan dalam mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan sosial, pusat perhatian sosial, stratifikasi sosial, pusat-pusat kekuasaan, serta sistem dan saluran-saluran komunikasi sosial;
2. Pada taraf pelaksanaan, sosiologi dapat berguna untuk melakukan identifikasi terhadap kekuatan-kekuatan sosial dalam masyarakat, serta mengamati perubahan-perubahan sosial yang terjadi;
Pengetahuan sosiologi dapat digunakan untuk menganalisis efek-efek sosial dari pembangunan

KEGUNAAN DALAM PEMECAHAN MASALAH SOSIAL
1. Pendekatan dan metode pemecahan masalah dalam sosiologi dapat digunakan memecahkan masalah-masalah aktual dalam masyarakat;
2. Secara umum ada dua pendekatan dan metode dalam penanggulangan masalah-masalah sosial, yaitu:
a. Pendekatan/metode preventif, dilakukan dengan mengadakan penelitian mendalam terhadap gejala-gejala sosial yang kemungkinan menimbulkan masalah-masalah sosial;
b. Pendekatan/metode represif, yaitu proses penanggulangan secara langsung terhadap masalah sosial yang ada dan dirasakan masyarakat, artinya tindakan penanggulangan baru dilakukan, setelah gejala sosial itu dapat dipastikan sebagai masalah sosial.

• PERKEMBANGAN SOSIOLOGI
• Bouman membagi perkembangan sosiologi menjadi 4 fase , yaitu:
1. sosiologi sebagai bagian dari pandangan tentang kehidupan bersama secara filsafat umum, terutama tentang negara, hukum, dan moral yang tersimpul dalam kaidah-kaidah etika. Pada fase ini sosiologi merupakan cabang filsafat, yaitu Filsafat Sejarah atau Filsafat Sosial.
2. dimana timbul keinginan untuk membangun susunan ilmu berdasarkan pengalaman-pengalaman dari peristiwa nyata, bukan hanya hasil renungan saja dan memisahkan alam pikiran secara lambat laun dari ajaran gereja.
3. merupakan awal dari sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang berndiri sendiri. Orang mengatakan bahwa Comte adalah “bapak sosiologi”, karena ia pertama kali menggunakan istilah sosiologi dalam pembahasan tentang masyarakat.
4. ciri utamanya adalah keinginan untuk bersama-sama memberikan batas yang tegas tentang obyek sosiologi, sekaligus memberikan pengertian dan metode-metode sosisologi yang khusus.

• PARADIGMA SOSIOLOGI
1. Paradigma Fakta Sosial
a. Pengertian: Fakta sosial adalah barang sesuatu (thing) yang berbeda dengan ide. Barang sesuatu menjadi obyek penyelidikan ilmu pengetahuan, yang tidak dapat difahami melalui kegiatan mental murni. Untuk memahami diperlukan penyusunan data riil di luar pemikiran manusia. Fakta sosal harus diteliti di dalam dunia nyata sebagaimana orang mencari barang sesuatu yang lain.
b. Jenis Fakta sosial, ada dua, yaitu: (1) fakta sosial dalam bentuk materiil, (2) fakta sosial dalam bentuk non-materiil, yang fenomena yang muncul dari diri sendiri. Misalnya egoisme, altruisme, kepedulian sosial
c. Obyek kajian ilmu sosial menurut Paradigma Fakta sosial
adalah fakta sosial, terdiri atas dua tipe, yaitu struktur sosial dan pranata sosial. Secara rinci, fakta sosial terdiri atas: kelompok sosial, kesatuan sosial tertentu, sistem sosial, posisi, peranan, nilai, keluarga, pemerintah dan sebagainya.

. Paradigma Definisi Sosial
a. Pengertian
mempelajari tindakan manusia yang penuh arti atau penuh makna melalui penafsiran dan memahami tindakan sosial dan hubungan sosial untuk sampai pada penjelasan kausal, tindakan manusia dipengaruhi oleh struktur sosial dan pranata sosial.
Tindakan sosial dapat dalam bentuk tindakan nyata diarahkan pada orang lain dan tindakan yang bersifat “membatin” atau bersifat subyektif yang mungkin terjadi karena pengaruh positif dari situasi tertentu.


Obyek kajian Sosiologi
Berdasarkan konsep tindakan sosial dan antar hubungan sosial itu Weber mengemukan lima ciri kajian sosiologi:
1. tindakan manusia, yang menurut si aktor mengandung makna yang subyektif.
2. Tindakan nyata dan yang bersifat membatin sepenuhnya dan bersifat subyektif.
3. Tindakan yang meliputi pengaruh positif dari suatu situasi, tindakan yang sengaja diulang, serta tindakan dalam bentuk persetujuan secara diam-diam.
4. Tindakan itu diarahkan kepada seseorang atau kepada beberapa individu.
5. Tindakan itu memperhatikan tindakan orang lain dan terarah kepada orang lain itu.

Obyek kajian Sosiologi
Berdasarkan konsep tindakan sosial dan antar hubungan sosial itu Weber mengemukan lima ciri kajian sosiologi:
1. tindakan manusia, yang menurut si aktor mengandung makna yang subyektif.
2. Tindakan nyata dan yang bersifat membatin sepenuhnya dan bersifat subyektif.
3. Tindakan yang meliputi pengaruh positif dari suatu situasi, tindakan yang sengaja diulang, serta tindakan dalam bentuk persetujuan secara diam-diam.
4. Tindakan itu diarahkan kepada seseorang atau kepada beberapa individu.
5. Tindakan itu memperhatikan tindakan orang lain dan terarah kepada orang lain itu.

3. PARADIGMA PERILAKU SOSIAL
• Paradigma perilaku sosial memusatkan perhatian kepada antara hubungan antara individu dan lingkungannya. Lingkungan itu terdiri atas: (a) bermacam-macam obyek sosial; (b) bermacam-macam obyek non-sosial.
• Pokok persoalan yang dikaji sosiologi adalah tingkahlaku individu yang berlangsung dalam hubungannya dengan faktor lingkungan yang menghasilkan akibat-akibat atau perubahan dalam faktor lingkungan menimbulkan perubahan terhadap tingkahlaku. Jadi terdapat hubungan fungsional antara tingkahlaku dengan perubahan yang terjadi dalam lingkungan aktor.

• PANDANGAN COMTE
membagi sosiologi menjadi dua bagian, yaitu: Social Statics dan Social Dynamics.
• Social Statics, maksudnya adalah suatu penelitian atau studi tentang hukum-hukum aksi dan reaksi antara bagian-bagian dari suatu social system. Pada bagian ini Comte mengatakan bahwa social statics merupakan bagian awal dari ilmu pengetahuan sosiologi, namun bukan merupakan bagian penting dari sosiologi.
• Comte menandasakan bahwa bagian terpenting dalam studi sosiologi adalah social dynamics yang diartikan sebagai teori tentang kemajuan atau perkembangan masyarakat. Comte memandang masyarakat sebagai kesatuan yang dalam bentuk dan arahnya tidak bengantung pada inisiatif bebas anggotanya, melainkan pada proses spontan-otomatis perkembangan akal budi manusia.
PERKEMBANGAN AKAL BUDI MANUSIA (Comte)
• Comte membedakan tiga tahap perkembangan akal budi, yaitu tahap religius, tahap tahap metafisik, dan tahap positif. Ketiga tahap tersebut diterangkan oleh Veeger, yaitu: Pada tahap religius, masyarakat dihayati sebagai kehendak Dewa atau Allah. Pemerintahnya berstruktur feodal atau faternalistis. Ekonominya bercorak “militeristis” dalam arti bahwa orangnya tidak memprodusir sendiri barang kebutuhan mereka, tetapi memetik hasil bumi atau meramu saja. Tahap metafisika mengakibatkan kemunduran agama, hal mana langsung kentara dalam revolusi dan perombakan atas kehidupan bersama yang tradisional. Tahap positivisme sekarang membangun kembali suatu orde baru yang kokohkuat, dimana peranan agama dan filsafat diambil alih oleh ilmu pengetahuan positif yang tangguh dan universal. Pada zaman positivisme, menurut Comte, hegemoni agama mesti diganti dengan hegemoni ilmu pengetahuan, ulama dengan sarjana, kuil atau gereja dengan universitas. Bagi Comte, sosiologi merupakan ilmu pengetahuan kemasyarakatan umum yang merupakan hasil terakhir daripada perkembangan ilmu pengetahuan.

PENGERTIAN STRUKTUR SOSIAL

• Istilah struktur dapat diterjemahkan dengan susunan, bagan, bangunan, skema atau gambar konkrit tentang sesuatu.
• Struktur sosial adalah susunan atau bangunan masyarakat yang menggambarkan suatu lembaga sosial atau pranata sosial yang berlapis-lapis
• Soekanto (1983): Struktur sosial adalah hubungan timbal balik antara posisi-posisi sosial dan antara peranan-peranan
• Struktur sosial adalah tatanan atau susunan sosial dalam kehidupan masyarakat yang di dalamnya mengandung hubungan-hubungan timbal balik antara status dan peranan dengan batas-batas perangkat unsur-unsur sosial yang menunjuk pada suatu keteraturan perilaku, sehingga memberikan bentuk suatu masyarakat.
• STRUKTUR SOSIAL MASYARAKAT INDONESIA
Ditandai oleh dua cirinya yang bersifat unik, yaitu:
a. secara horizontal, ditandai oleh kenyataan adanya kesatuan-kesatuan sosial berdasarkan perbedaan-perbedaan suku-bangsa, perbedaan-perbedaan agama, adat serta perbedaan-perbedaan kedaerahan.
b. Secara vertikal, struktur masyarakat indonesia ditandai oleh adanya perbedaan-perbedaan vertikal antara lapisan atas dan lapisan bawah yang cukup tajam. Pengaruh dari kondisi masyarakat Indonesia yang memiliki kemajemukan suku bangsa, kehidupan keagamaan, ras dan antar golongan, sebagai akibat perubahan sosial dan krisis multi dimensional yang berkepanjangan, memicu keresahan sosial dan kerusuhan massa di berbagai daerah sangat berpengaruh terhadap keseimbangan, dan stabilitas masyarakat Indonesia sebagai sistem sosial.

• Status dan Peranan Sosial
Status
Ø
adalah tempat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial, sehubungan dengan orang-orang lain dalam kelompok tersebut atau tempat suatu berhubungan dengan kelompok-kelompok lainnya di dalam kelompok yang lebih besar lagi.
Status Sosial
Ø
– Mayor Polak (1979): kedudukan sosial seorang oknum dalam kelompok serta dalam masyarakat
– Soerjono Soekanto (2002): tempat seseorang secara umum dalam masyarakatnya sehubungan dengan orang lain, dalam arti lingkungan pergaulannya, prestisenya dan hak-hak serta kewajiban-kewajibannya.
– Perbedaan status sosial
Dalam masyarakat senantiasa ada perbedaan status antara orang yang satu dengan yang lainnya, antara kelompok satu dengan kelompok lainnya. Ada yang mempunyai status sosial tinggi ada yang mempunyai status sosial rendah, sehingga nampak berlapis-lapis dari atas ke bawah.


• SOSIOLOGI SEBAGAI ILMU
ILMU PENGETAHUAN
• Pengetahuan adalah suatu kesan dalam pikiran manusia sebagai hasil dari pengamatan dan pengalaman masa lampau yang mengandung kebenaran.
• Ilmu adalah akumulasi pengetahuan yang disistematisasikan atau ilmu adalah kesatuan pengetahuan yang terorganisasikan
• Ilmu pengetahuan sebagai pendekatan atau metode pendekatan terhadap seluruh dunia empiris, yaitu dunia yang terikat oleh faktor ruang dan waktu, dunia yang dapat diamati oleh panca indera manusia.
• Pengetahuan dapat disebut Ilmu pengetahuan, apabila pengetahuan itu telah disusun secara sistematis, yaitu tersusun secara berurutan dan merupakan suatu kebulatan
• Jadi Ilmu Pengetahuan adalah pengetahuan yang tersusun secara sistematis dengan menggunakan kekuatan pemikiran yang selalu dapat diperiksa dan ditelaah dengan kritis oleh setiap orang.

TIMBULNYA ILMU PENGETAHUAN
1. Pada hakikatnya ilmu pengetahuan timbul karena adanya hasrat ingin tahu manusia terhadap aspek-aspek kehidupan;
2. Setelah manusia memperoleh pengetahuan tentang sesuatu, kemudian diteruskan dengan penemuan secara kebetulan, melakukan percobaan, dan penelitian ilmiah;
3. Penelitian ilmiah dilakukan manusia untuk menyalurkan hasrat ingin tahu yang telah mencapai tarap keilmuan, disertai keyakinan bahwa setiap gejala dapat ditelaah dan dicari sebab-akibatnya;
4. Suatu penelitian dimulai apabila seseorang berusaha memecahkan masalah secara sistematis dengan metode-metode tertentu, yaitu metode-metode ilmiah untuk menemukan kebenaran. Jadi penelitian merupakan bagian pokok dari ilmu pengetahuan bertujuan lebih mengetahui dan mendalami segala segi kehidupan untuk memperkuat ilmu pengetahuan.

• KELOMPOK ILMU PENGETAHUAN
BERDASARKAN OBYEKNYA ADA EMPAT KELOMPOK ILMU PENGETAHUAN (SOEKANTO, 2002):
1. Ilmu Matematika
2. Ilmu Pengetahuan Alam, yaitu kelompok ilmu pengetahuan yang mempelajari gejala-gejala alambaik yang hayati (life sciences) maupun yang tidak hayati (fisika).
3. Ilmu tentang perilaku (behavioral sciencs) yang disatu pihak menyoroti perilaku hewan (animal behavior) dan dilain pihak menyoroti perilaku manusia (human behavior). Yang terakhir ini sering kali dinamakan ilmu-ilmu sosial yang mencakup pelbagai ilmu pengetahuan yang masing-masing menyoroti suatu bidang dalam kehidupan masyarakat;
4. Ilmu Pengetahuan kerohanian, yang merupakan kelompok ilmu pengetahuan yang mempelajari perwujudan spiritual kehidupan bersama manusia.

• SOSIOLOGI DAN ILMU SOSIAL
• Sosiologi adalah ilmu sosial yang obyeknya adalah masyarakat. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri, yang ciri-ciri utamanya adalah:
1. Sosiologi bersifat empiris, berarti bahwa ilmu pengetahuan tersebut berdasarkan observasi terhadap kenyataan dan akal sehat, serta hasilnya tidak bersifat spekulatif;
2. Sosiologi bersifat teoretis, yaitu ilmu pengetahuan tersebut selalu berusaha menyusun abstraksi dari hasil-hasil observasi. Abstraksi tersebut merupakan kerangka unsur-unsur yang tersusun secara logis serta bertujuan untuk menjelaskan hubungan-hubungan sebab akibat sehingga menjadi teori;
3. Sosiologi bersifat kumulatif artinya teori-teori sosiologi dibentuk atas dasar teori-teori yang sudah ada dalam arti memperbaiki, serta memperluas teori-teori lama;
4. Bersifat non-etis, yakni yang dipersoalkan bukan baik-buruk fakta tertentu, tetapi tujuannya untuk menjelaskan fakta tersebut secara analitis.

Hubungan sosiologi dengan ilmu sosial lainnya
Masyarakat yang menjadi obyek ilmu sosial dapat dilihat sebagai sesuatu yang terdiri dari beberapa segi, yaitu:
• Segi ekonomi, yang berkaitan dengan aktivitas produksi, distribusi, dan konsumsi barang dan jasa; Segi ekonomi dipelajari oleh Ilmu Ekonomi.
• Segi kehidupan politik, berhubungan dengan penggunaan kekuasaan dalam masyarakat; Segi kehidupan politik dipelajari oleh Ilmu politik
• Antropologi, memusatkan perhatian pada masyarakat-masyarakat yang masih sederhana taraf kebudayaannya, sedangkan sosiologi menyelidiki masyarakat modern yang sudah kompleks (Soekanto, 2002)

• Chester L. Hunt: ada dua cara memberi arti batasan Ilmu Pengetahuan, yaitu: (1) suatu kesatuan susunan pengetahuan yang telah diverifikasikan (telah dibuktikan kebenarannya melalui penyelidikan ilmiah); (2) suatu metode studi dengan kesatuan susunan pengetahuan yang diverifikasi itu diperoleh.
• Jadi Sosiologi dapat diterima sebagai ilmu pengetahuan, karena dibangun dari kesatuan susunan pengetahuan atas dasar penyelidikan ilmiah dengan menggunakan metode-metode ilmiah.

Obyek Sosiologi

• Obyek Sosiologi adalah masyarakat, yang dilihat dari sudut hubungan antar manusia, dan proses yang timbul dari hubungan manusia di dalam masyarakat.
• Masyarakat meliputi: (a) struktur sosial mencakup keseluruhan jalinan unsur-unsur sosial (norma sosial, lembaga sosial, kelompok sosial dan lapisan sosial); (b) proses sosial adalah pengaruh timbal balik antara pelbagai segi kehidupan bersama (kehidupan hukum dengan agama, kehidupan agama dengan ekonomi, dsb); (c) perubahan sosial (perubahan struktur dan kultural).

• OBYEK SOSIOLOGI
Gunawan memerinci obyek sosiologi, Mencakup:
1. Struktur sosial, adalah jalinan dari seluruh unsur-unsur sosial;
2. Unsur-unsur sosial yang pokok adalah norma sosial, lembaga sosial, kelompok sosial dan lapisan sosial;
3. Proses sosial, adalah pengaruh timbal balik antara berbagai segi kehidupan bersama;
4. Perubahan sosial, adalah segala perubahan yang terjadi pada lembaga sosial dalam masyarakat yang mempengaruhi

bisnis online gratis di internet